Thursday, March 6, 2008

Kasih Yesus tak bersyarat





Suatu hari aku melihat Bapa sedang melamun di takhta-Nya. Aku
menghampiri-Nya dan pelan-pelan aku bertanya kepada-Nya, "Bapa, apa yang
sedang Kau pikirkan ?"

Bapa menoleh ke arahku, dan Ia tersenyum, lalu Ia berkata dengan lembut,
"Tidak ada, Nak. Aku hanya sedang memikirkan manusia."

"Manusia ? Ada apa dengan mereka ?" tanyaku

"Tahukah kau bahwa Aku sangat mengasihi manusia ?" ujar-Nya,

"Iya, aku tahu itu. Apa hubungannya Tuhan ?"

"Aku mengasihi manusia sedemikian, sehingga Aku merelakan Anak-Ku
terkasih, Yesus Kristus untuk turun ke bumi, menderita, dihina, dan
akhirnya mati bagi mereka."

"Iya, itu adalah karya penebusan yang sangat indah."

"Tapi...."

Ups..., ada nada sedih di suara-Nya.

"Tapi, mengapa manusia masih juga meragukan kasih-Ku ?"

Aku terdiam, aku tidak dapat menjawab pertanyaan-Nya, karena aku pun
tidak tahu...

"Hari ini, ada satu anak-Ku, dia menangisi dosanya, dia memohon
pengampunanKu, Aku mengampuninya, Aku mengatakan bahwa Aku sudah tidak
mengingat-ngingat lagi dosa yang ia buat, tapi...."

"Tapi kenapa Tuhan ?"

"Saat Aku berkata demikian, ia menggelengkan kepalanya, ia berkata,
tidak akan ada pengampunan lagi atas dosa yang ia perbuat, ia sudah
terlalu sering jatuh bangun dalam dosa, ia mengatakan bahwa ia membenci
dirinya..."

Aku diam, menantikan Tuhan.

"Kenapa ia memandang hina dirinya ? Padahal dia adalah biji mata-Ku,
kekasih hati-Ku. Darah Yesus sudah tercurah untuknya, Aku sudah
mengampuninya, tapi ia tidak Percaya. Aku berkata Aku sudah melupakan
semua dosanya, tapi ia berkata tidak mungkin. Mengapa ia memandang
rendah pengorbanan Yesus di kayu salib ?"

"Apa ? Memandang rendah pengorbanan Yesus di kayu salib ?" Aku terkejut,
adakah orang yang seperti itu ? "Bagaimana mungkin ia memandang rendah
pengorbanan Yesus ?"

"Darah Yesus tercurah di Kalvari untuk menebus dosa manusia, hukuman
yang seharusnya ditimpakan kepada manusia sudah diambil alih oleh-Nya,
sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan di dalam Dia, tapi manusia
merasa tidak yakin bahwa apa yang telah Dia lakukan sanggup menebus
mereka dari maut, mereka tidak yakin dengan karya penebusan yang telah
dilakukan oleh Yesus."

Tanpa sadar, aku menangis, aku membayangkan, seandainya aku sudah
memberikan hadiah yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk orang yang
aku kasihi, tapi ternyata hadiah itu dianggap rendah, diacuhkan dan
dibuang begitu saja. Kira-kira, apakah masih tersisa kasih dalam hatiku
untuk mengasihi orang itu ? Kalau itu aku, mungkin aku tidak akan
mengasihi orang itu lagi.

"Lalu Tuhan, apakah sekarang Engkau masih mengasihi manusia ?"

"Ya, Aku sangat mengasihi manusia !"

Aku terkejut ! Sedemikian dalamkah kasih Allah untuk manusia ?

"Walaupun mereka seperti itu ?" tanyaku

"Ya, Aku rindu suatu hari mereka akan datang kepada-Ku dan mengatakan
bahwa mereka mengasihi-Ku."

Aku masih terheran-heran. Siapakah manusia sehingga Allah, Sang Pencipta
langit dan bumi begitu mengasihinya ? Bukankah mereka hanyalah debu dan
abu ? Bukankah jika Tuhan mau, Tuhan bisa dengan mudah menghancurkan
manusia dan membuat yang lebih baik ? Aku rasa hal itu tidak sulit untuk
Tuhan, bukankah Ia menciptakan langit dan bumi hanya dengan perkataan
saja ? Hal seperti ini sangat sulit untuk diterima, mengapa Tuhan sampai
sedemikian dalam mengasihi manusia ?

Aku memberanikan diriku, aku bertanya lagi kepada Tuhan, "Tuhan,
sungguhkan Engkau mengasihi manusia ?"

Tuhan tersenyum, dan Ia berkata, "Sangat, Aku sangat mengasihi manusia.
Jika tidak, Aku tidak akan mengutus Anak-Ku Yesus untuk mati bagi
mereka. Sekalipun mereka sekarang jauh dari-Ku, Aku sangat rindu mereka
kembali kepada-Ku. Karena mereka adalah anak-anak-Ku terkasih."

Mendengar jawaban Tuhan aku tersenyum. Aku mengerti kenapa Tuhan tetap
mengasihi manusia...., Tuhan memiliki kasih yang tidak bersyarat !

Tiba-tiba terdengar suara dari bumi. Suara yang perlahan dan terdengar
sedih, tapi suara itu tetap menarik perhatian Allah.

"Tuhan, aku tahu aku seringkali melukai hatiMu. Aku sering jatuh bangun
dalam dosa. Aku kadang merasa benci dan jijik terhadap diriku sendiri,
karena dosa-dosa yang aku perbuat. Tapi aku percaya, darah Yesus menebus
aku seluruhnya dan sepenuhnya. Aku tahu aku adalah ciptaan baru
sekarang. Aku percaya Tuhan mengasihi aku sebagaimana adanya aku. Ampuni
aku Tuhan, aku benci dosa-dosaku. Aku ingin hidupku menyenangkanMu, aku
mengasihiMu Tuhan."

Saat doa itu diucapkan, aku melihat senyum di wajah Tuhan berubah
menjadi tawa sukacita, Ia sangat bahagia, karena saat itu, ada satu
anakNya yang terhilang kembali kepadaNya, dan ia berkata kepada para
malaikat,

"Bersukacita dan bergembiralah, karena anak-Ku ini telah mati dan
menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapati kembali."

Aku tidak tahu, dosa apa yang kamu perbuat, aku tidak tahu berapa lama
kamu tinggal dalam dosa. Tapi aku tahu satu hal, Bapa di Surga
mengasihimu, dan tangan-Nya terbuka menunggumu pulang. Kembalilah,
jangan biarkan Ia menunggu terlalu lama. Yesus mengasihimu !

No comments: